Rabu, 16 Desember 2015

Ramah Tamah Jawa Tengah

Lagi lagi ini adalah postingan yang kata orang kekinian itu di sebut Late Post. Maklum mahasiswa yang hanya menyibukkan diri dengan segudang permasalahan dalam pikirannya dan terus mencari jawaban tentang kehidupan yang semakin kompleks ini memang tidak ada habisnya. oke karena ane memang sudah buntu marilah sedikit berbagi dongeng dan cerita untuk mencairkan suasana. kita bakar dulu si putih beraroma cengkeh tak lupa si hitam manis yang selalu menemani.

Bagi kebanyakan orang, traveling adalah sesuatu yang dapat menghidupkan mood seseorang, traveling adalah salah satu bagian dari kehidupan kita, tanpa traveling ente bakal membusuk di kamar kosan yang bagaikan penjara itu, tentunya kalian ga bakal mau kan? haha. untuk seorang mahasiswa smester 7 dan sudah berkepala 2 ini suasana membosankan kerap menghampiri, kadang pula juga kesepian. melakukan hal yang sama setiap hari, mendengarkan ocehan ocehan penuh ilmu si dosen. kadang ane ngerasa miris bukannya tidak mendapat apa-apa dari hasil ane kuliah, cuma merasa monoton saja, seolah kita hanya datang untuk mendengarkan pertunjukan seni wayang powerpoint ataupun cerita dongeng matakuliah sebelum tidur (kebanyakan mahasiswa kadang tidur di kelas termasuk ane).

Mendengarkan dosen bercerita kadang memang membuat ngantuk, tapi ada satu dosen yang ane suka ketika dia bercerita, dia adalah guru besar di fakultas ane, dengan segudang pengalamannya dan ceritanya membuat ane kagum, petualang besar apa yang dia lakukan sehingga berwawasan seperti ini, ocehannya tentang perjalanan kisahnya di ceritakan tanpa henti dan sungguh inspiratif. belajar itu tak hanya dalam kelas dan ruangan berpapan tulis tapi dimanapun kamu berada itu adalah belajar, apa salahnya memulai sebuah perjalanan untuk belajar apa saja, apa pun itu. meski kadang orang memandang hobi ane adalah sesuatu yang menghabiskan duit dan terbilang untuk senang -senang, tapi untuk sebuah ilmu dan pengalaman yang tak terduga uang bukanlah apa - apa. ini adalah sepenggal cerita ane ketika bertualang di jawa tengah.

Pendamping hidup si Hulk

Segenap peralatan tempur yang biasa ane pakai saat traveling sudah ane pakai. tas besar karier "Si Hulk" selalu menemani kala ane bertualang, sudah seperti jodoh rasanya. Perjalanan panjang menuju kabupaten di ujung utara Jawa Tengah, Jepara. Baru kali pertama ane datang ke Jepara, kalo bukan hanya karena Praktek Kerja Lapang ane ga bakalan tau gimana itu jepara. Di jepara ane tinggal di suatu kampung nelayan yaitu desa melonggo, kesan ramah adalah yang ane rasakan disana, meskipun hanya sebuah keluarga nelayan kecil ane bisa di terima dengan baik layaknya anak sendiri. dan ikut melakukan kehidupan layaknya orang desa yang menangkap ikan. suka duka kami alami saat ikut melakukan proses penangkapan ikan, memang nelayan desa melonggo jauh dari kata modern, mereka hanya memiliki sebuah perahu bermesin diesel yang bising dan hitam berlumur oli.

kesederhanaan bisa ane rasakan disini, meskipun dengan kondisi ala kadarnya mereka tetap semangat untuk mencari nafkah. waktu itu cuaca memang tidak terlalu baik, perahu yang mereka naiki kini tak berlayar sejauh seperti biasanya, benar saja belum sampai beberapa mil kapal yang kami naiki mulai terombang ambing sangat kencang, bagaikan film "Life of Pi" seorang anak india yang terombang ambing di samudra pasifik. meskipun begitu tak ada rasa takut di wajah nelayan itu, wajahnya yang tua dan renta cukup dengan ekspresi wajah yang inosen dan kadang juga tersenyum. pria tua itu sepertinya sudah menyatu dengan derai ombak yang ganas. hari mulai larut dan matahari mulai terbenam, angin malam sangat kencang dan mereka mulai menurunkan jaring, ane hanya bisa melihat dan tak bisa berkata apa-apa, kepala pusing dan mual, oh yeah ane mabuk laut. berjam jam ane terkapar tak berdaya di atas kapal yang terombang ambing itu. mengocok perut dan terus memaksa makanan keluar dari dalam lambung, sampai akhirnya tak tau apa lagi yang harus di keluarkan, karena benar benar kosong. hampir mau mati rasanya.

Pak tua di Ujung Buritan Kapal



pak tua itu hanya bisa tertawa, "hahaha, memang begitu nak kalau baru pertama kali melaut, tapi kalau sudah berkali kali akan terbiasa, kalau kamu mau sembuh segeralah mandi air laut ketika mabuk, atau nyemplung ke laut" kira kira seperti itu terjemahan dari bahasa Jawa Halusnya. Gila saja di suruh nyemplung laut dengan ombak setinggi ini.

dan akhirnya matahari kembali bersinar dan kapal mulai kembali ke pantai, sampai saat ini ane bingung bagaimana bisa dia menentukan arah dan tempat untuk menangkap ikan di laut yang luas sedangkan tak ada teknologi di kapalnya selain mesin diesel, aki dan lampu. dia bercerita kepada ane, bahwasanya Tuhan sudah memberikan kita segala kemampuan dan kemudahannya, asal kita mau untuk mencari dan memahaminya, Tuhan sudah memberikan kita peta yang maha luas di langit yaitu rasi bintang, menyediakan arus sebagai arah pelayaran, warna perairan, angin, dan tak lupa Do'a. semuanya jadi satu sebagai patokan kemana dia akan berjalan dan kembali, kita tak perlu khawatir di situ kita disuruh untuk mempelajari maksudnya. semua telah ia pelajari sejak masih muda dulu, dan kini dia paham betul.


sesampainya di pinggir pantai sudah menjadi kebiasaan nelayan yaitu memasak untuk sarapan. tak ada bumbu istimewa yang mereka bawa, ikan segar hasil tangkapan semalam mereka potong-potong dan direbus dengan bumbu seadanya tak lupa gula merah yang merupakan komponen khas bumbu dapur orang jawa tengah. dengan lahapnya ane makan maklum isi perut sudah kosong. hasil tangkapan memang tak sebanyak seperti biasanya maklum waktu itu cuaca sedang buruk - buruknya tetapi nelayan tua itu tetap tersenyum dan tak ada sedikitpun raut rasa kecewa. "memang seperti itu pekerjaan nelayan, bergantung musim nak". kadang ketika musim sedang baik - baiknya mereka bisa mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar, bahkan sehari saja mereka bisa mendapatkan 3 juta rupiah. kalau tiap hari seperti itu bisa ngalahi gaji PNS dong hahaha jelas. kadang dari tampilannya yang sederhana dan jauh dari kemewahan sebenarnya orang ini sudah lebih dari kaya, karena kaya emang relatif tergantung dengan kebutuhannya apa. hebatnya mereka tidak menunjukkan kekayaan itu layaknya orang di kota. Dengan sepeda motor bututnya kami membawa hasil tangkapan itu menuju TPI, ditemani jalan berbatu dan cahaya matahari pagi di tengah sawah.



dari perjalanan ini di desa Mlonggo, ane mendapatkan pelajaran berharga selain data hasil PKL ane. bahwa sesusah apapun hidup tetaplah syukuri hal hal kecil, walau rezeki kadang tak menentu tetaplah bersedekah dan berbagi senyum, kadang hal yang sesederhana ini menjadi luar biasa.








0 komentar :

Poskan Komentar

FOLLOW INSTAGRAM

Instagram

About me

Foto Saya
Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia
Hanya seorang insan yang gemar bertualang, dan ingin berbagi cerita tentang pengalaman indahnya menjelajahi pelosok negeri ini

Entri Populer